Pages

Minggu, 19 September 2010

Ringkasan Comment FB

meninggalkannya disana, sungguh menggelisahkan. ada rindu yang tiba-tiba menyeruak begitu besar. tapi, bukankah rindu memang membutuhkan jarak, selalu membutuhkan jeda?. maka, kali ini aku hanya bisa berdo'a, semuanya akan baik-baik saja hingga waktu itu tiba. cintaku tertinggal di madura...

maka, izinkan aku membawamu pada keramaian pasar, pada khalayak ramai, pada riuh jejak dan tapak kerumun manusia yang membingungkan. jika kau jatuh, aku akan merangkulmu. jika kau lelah, tidurlah di dadaku. dan jika kau kedinginan, izinkan aku memelukmu dalam dekap hangatku... tiara!

jika kau masih ingin mengejekku, silahkan. jika masih suka menghinaku, silahkan. jika masih belum puas menilaiku, silahkan. sebab semua itu adalah tanggung jawabku...
tapi tolong, jangan sekali-kali kau membawa para tetuaku, apalagi orang tuaku. ini sangat tidak fair, lantaran aku tahu mereka tidak pernah mengajari sedi...kitpun hal tidak baik pada diriku...
awas, jika kau lakukan itu!

Minggu, 01 Agustus 2010

Ibu

Biar kumengais sisa telapak kakimu
Sebab kutahu terselip surga pada dedebuan itu

Jika secarik nafasmu kau robek
Pun sepenggal kepalaku kau tebas
Tak akan terbayar hangat dekapmu, ibu…

Dulu, sering sekali kudengar nyanyian surgawi pada getar suaramu saat kau kecup keningku di rubaiyat malam lalu melelapkanku dalam peluk kasihmu.
Sementara lelentik jemarimu membelai mesra rambutku
Sebaris do’a kudengar
“tidurlah, saying… jangan kau nakal!”

Maaf ibu, jika hingga kini belum kuresapi do’amu
Tapi, delerai air mata dan kucur keringatmu sudah kupersiapkan untuk melukis semyummu
Lantaran aku tahu;
Ada senyum Tuhan pada senyum manis bibirmu…

Ibu…
Istanaku, 2010

Tunggu saja!

Terima kasih kuucapkan atas kebencian yang kau sematkan
Akan kusiapkan loyang besar biar menampung ludah ocehanmu
Suatu saat, akan kubuang ludah itu
; tepat di wajahmu!

Nikmatilah bau busuk liurmu,
Lebih busuk dari liurku, kawan…
Bata-Bata, 2008

Kidung wanita bercadar

Senyum simpul dibalik cadar hitam itu
Bisa kunikmati dari bahasa matanya yang bersinar
Meski tak kudengar bisik suara
Tapi kupastikan itulah bahasa hatinya
Aku biarkan saja
Aku diamkan saja
Meski pada kilat cahaya matanya yang lain
Kutemukan setitik mendung tertahan

(aku tahu perempuan itu jujur, tapi aku tak bisa dibohongi!)

Pada suatu pagi,
Saat matahari menyembul tipis dengan senyum manis
Lamat sekali kudengar sebuah nyanyian
Melucuti sel saraf menjadi tegang
Hingga aku sadar bahwa kilatan mata yang lain itu
Adalah kidung ketakutan,
Kekhawatiran atas penindasan terhadap kaum perempuan
Palduding-Pamekasan, 2008

Getaran itu

Masih saja getar itu erat kupegang
Saat tatap mata kita menyatu dalam garis kebingungan
Kunikmati wajah angkuhmu dengan sejuta cibiran itu
Aneh,
Getar itu semakin mengencang
Sempat perlahan, lalu terus saja mengencang

Akhirnya, hati kita mengharu biru tersipu malu
Huuu, cinta!
Bata-Bata, 2008

Kita bisa tersenyum

Sinar matahari yang konon garang itu
; berhasil kita permalukan, sayang
Lantaran panasnya masih terlalu dingin untuk mengusik kemesraan yang kita rasa
Duduk kita di tepi pantai,
Menikmati lekukan reriak gelombang yang sesekali menjadi gemuruh pelan
Meresapi bisikan mesra desir angin
Menyapai lelambai dedaunan yang riang meyuarakan alam
Selamat siang, kabahagiaan
Cinta kita berdendang kemudian

Ah, tapi tatapan sinis mereka seperti mengejek kebersamaan ini
“kalian tak akan mampu bertahan!”
Kita terpekur dalam diam
Menyisir tiap jengkal imaji yang beku
Untuk kemudian mengangguk samar-samar
; kalau itu memang sebuah keharusan!
Bata-Bata, 2008

Terserah rindu saja

Kutitip rindu pada sesajakan tumbang di tebang malam
Rindu menggeliat diantara rerumpun kata
Menyisakan delerai duka pada tetes airmata yang mengalir diantara jenak-jenak diamku
Tangisan kata tumpah menyeruak memecah keheningan
Membasahi jiwaku yang kering kerontang

Jika pada tiap nada tersirat cinta
Dan cinta harus dengan kata
Maka, aku pasti diam saja!

Ah, kebingungan ini adalah pilihan demi merenda makna pada robekan dunia

Carilah di tengah pecahan hidup yang terserak di mana tempat ada,

Lalu, rinduku bagaimana?
Bata-Bata, 2008

Terserah rindu saja

Kutitip rindu pada sesajakan tumbang di tebang malam
Rindu menggeliat diantara rerumpun kata
Menyisakan delerai duka pada tetes airmata yang mengalir diantara jenak-jenak diamku
Tangisan kata tumpah menyeruak memecah keheningan
Membasahi jiwaku yang kering kerontang

Jika pada tiap nada tersirat cinta
Dan cinta harus dengan kata
Maka, aku pasti diam saja!

Ah, kebingungan ini adalah pilihan demi merenda makna pada robekan dunia

Carilah di tengah pecahan hidup yang terserak di mana tempat ada,

Lalu, rinduku bagaimana?
Bata-Bata, 2008

Tetaplah bersamaku

Padaku kau datang di pagi buta
Saat lentik jemariku belum sempurna melukis segaris luka
Debur hatiku terampas sunyi
Lalu kau taburkan bunga rampai asmara
Menusuk tepat di jantung dada
Maka, pada lelembaran itu kupagut imaji pada titik pagi

Kalau boleh kupinta
Datanglah di setiap pagi buta
Menaburkan harum bidadari tujuh bunga
Bawakan padaku secawan anggur cinta
Biar kureguk demi mengejek setiap duka

Kesinilah,
Sebelum jilatan angkuh matahari merampasmu dalam ketakberdayaanku
Bata-Bata, 2008

Sabtu, 31 Juli 2010

Sya'ban

Segenap makhluq runduk dalam diam
Tak ada semilir angin berhembus,
Hanya sinar purnama yang tersenyum manis
Dibalik reranting yang tak lagi meliuk gemulai
terpekur dalam dzikir panjang
dan kalimat istighfar mengalir dari bibir-bibir yang rindu akan ampunan
inilah malam nisfu Sya’ban yang dimulyakan
turun beribu-ribu maaf yang lantas mengalir di tiap jemari lentik berjabat tangan
inilah purnama Sya’ban dimana Allah memanjakan seluruh makhluq-Nya dengan sejuta kebahagiaan yang mengkristal diantara celah-celah keremangan
inilah bulan Sya’ban…
Bartir, 26 juli 2010

Hari Terakhir Menuju Catatan Baru…

Hari ini adalah hari terakhir dengan buku lama, tepatnya tanggal 14 Sya’ban 1431. Dan sebagaimana saya yakini sejak kecil melalui guru-guru dan ustadz-ustadz saya, bahwa selain Bulan Sya’ban adalah termasuk dalam bulan yang dimulyakan dalam islam, di dalam bulan ini juga terjadi sebuah moment yang sangat penting yaitu, malam nisfu sya’ban. Malam nisfu Sya’ban, tanggal 15 Sya’ban, adalah malam pergantian buku catatan amal kita selama setahun. Malam pergantian raport tentang catatan semua perbuatan kita selama setahun yang berhasil dituliskan oleh kedua malaikat yang setia menjadi spionase segala pergerakan kita, Malaikat Roqib dan Malaikat ‘Atid, kedua malaikat yang setia berada di pundak kanan dan kiri kita.

Jakarta, I’m coming… (2)

Jum’at, tanggal 11 Agustus 2006, setelah shalat jum’at, saya meninggalkan pondok pesantren setelah sebelumnya pamit sama Gus Tohir dan beberapa ustadz lainnya. Tidak lupa ustadz Hosnan Zarkasyi, guru sekaligus ‘bapak’ ke-dua saya mungkin. Sedikit memohon bias barokah dari para guru yang sudah ikhlas mengajarkan saya berbagai ilmu. Fawaid sendiri sudah datang ke pondokku siang itu langsung dari pondoknya, An-Nuqoyah. Maka, siang itu, saya dan Fawaid berangkat menuju terminal Pamekasan. Dan karena kebetulan ada rombongan beberapa ustadz yang ingin pergi ke Pamekasan, akhirnya kami diajak untuk ikut bersama beliau-beliau. Kami diantar sampai ke terminal baru di Pamekasan, daerah Panglegur. Saya masih ingat waktu itu ada ustadz Imron, Ustadz Budi Santoso, Ustadz Hafidz, dll..
Dan siang itu dimana matahari yang bersinar begitu teriknya menjadi saksi tentang seorang anak yang berusaha berjuang untuk menemukan jalan hidupnya. Seorang anak yang baru saja di vonis ketinggalan kereta lantaran kebengalan dan kebangsatannya. Seorang anak yang mungkin setiap langkahnya di penuhi tanda tanya dan masalah yang bejibun. Seorang anak yang sedang mencari sepenuhnya arti diri dan kesabaran. Seorang anak yang berjanji untuk membahagiakan orang-orang yang ada di dekatnya. Dan usaha ini, hingga beberapa tahun kemudian masih menemui kebuntuan. Maka, setiap kali ia ingat itu, “sesulit itukah menjadi orang benar dan benar-benar baik?”, tanyanya dalam hati.

Jakarta, I’m Coming… (1)


Dan lantaran tulisan berjudul “Membangun Semangat Persaudaraan dalam Kebudayaan Indonesia” yang tebalnya delapan lembar, saya benar-benar akan menikmati ibu kota Negara ini, Jakarta. Kota yang katanya kejam. Kota yang konon “langitnya lebih biru”. Kota yang penuh warna, cerita, dan neraka!. Heh…
Berdasarkan surat yang datangnya dari Dikmenum, saya harus sudah sampai di Jakarta kira-kira kalau tidak salah tanggal 13 Agustus 2006 untuk check in kamar di wisma Handayani Jl. RS Fatmawati, Cipete, Jaksel (kantor Disdakmen Depdiknas). Yang membuat saya lumayan bingung, semua peserta harus membawa seragam sekolah masing-masing, harus membawa seragam olahraga, dan peralatan lainnya dimana uniform serta pernak-pernik seperti itu tidak saya miliki lantaran di pondok pesantren, para santri pergi sekolah dengan menggunakan sarung!, haha, sarung dan peci dengan tanpa tas, kawan… lalu bagaimana ini tidak lucu? (kalian mungkin juga akan sedikit tersenyum untuk yang satu ini).

It’s a Miracle!

Keajaiban. Kalau ada sebuah kebahagiaan yang tanpa kita sangka sebelumnya, itu keajaiban. Kalau tiba-tiba saja, dalam keadaan terdesak ingin dibunuh orang tapi ternyata orang yang mau membunuh kita tewas lebih awal, itu keajaiban. Kalau ada seorang pasien dan berdasarkan perhitungan medis sudah diramalkan bahwa umurnya tinggal seminggu lagi tapi dalam masa itu ia justru sembuh total, itu keajaiban. Ya, keajaiban adalah pemberian lebih dari Allah kepada hambaNya, atau mungkin itulah yang selama ini kita kenal dengan “min haitsu laa yahtasibu…”, sesuatu yang datang tanpa disangka dan dinyana. Berada diluar hukum klausalitas…
Keajaiban. Sebagaimana ada banyak orang yang mempercayainya, tidak sedikt pula yang tidak mempercayai. Hanya saja, tulisan ini bukan untuk membahas masalah itu. Dan bagaimanapun, saya percaya bahwa keajaiban itu ada. Karena menurut saya, keajaiban adalah sesuatu yang ghaib, dan sebagai orang islam, saya harus percaya terhadap sesuatu yang ghaib. Kuncinya mungkin satu; kita tidak perlu tahu segala sesuatu, kita hanya butuh percaya!

Masih Tentang Rindu dan Air Mata di Bulan Sya’ban


Setelah melaksanakan ritual jabat tangan, mengharapkan maaf dari semua orang, di malam yang suci dan indah ini, izinkan aku mengabarkan rindu yang teramat dalam untukmu, izinkan aku memandangmu di kejauhan sana (seperti yang kau bilang padaku waktu itu!). Ini barangkali sangat tidak pantas, tapi semua yang seharusnya saya lakukan pada malam nisfu Sya’ban ini sudah saya lakukan. Lantas, apakah salah kalau aku mengirimkan sejumput rindu ini? Mungkin saja tidak…

Menyesakkan!

Menunggu kedatanganmu, begitu menyesakkan!. Aku tak lebih dari seorang terdakwa yang sedang menunggu ketukan palu hakim atas kasus yang disidangkan. Semilir angin yang menyejukkan tak mampu merinaikan gundah yang menghunjam perlahan. Tiap kali aku ingat wajahmu, adrinalinku seperti dipompa mesin berkekuatan penuh hingga jantungku pun tak lagi berdetak normal. Mengingat bahwa, dari manis bibirmu itulah akan mengalir sebuah keputusan; sekarang atau tidak sama sekali!

Setengah purnama (lagi)

Tak lama lagi, sebentar setelah separuh purnama menyinari gelap hatiku, kau akan kembali dari medan tempur yang mungkin sangat melelahkan. Aku tahu kau tak mungkin lupa jalan pulang menuju istanamu, tapi aku tak yakin kau masih ingat bahwa ada aku yang menunggumu disini. Bukan di istanamu, tapi di remang pojok hatimu. Maka, untuk semua itu aku ingin mengucapkan, “selamat dating, duhai riuh gemuruh sukmaku…”
Malam ini, bulan seperti celurit tebal yang menantang. Setelah kuhitung jari, ah, sudah tinggal seperempat purnama lagi. Benar-benar sebentar lagi. Tapi, bentuk bulan yang seperti itu adalah symbol keberanian dan keangkuhan bagi orang Madura. Lalu masihkah kau tetap saja angkuh dengan perasaanmu seperti saat itu ketika kau tak mengakui perasaanmu, toh, meskipun aku tahu pasti bahwa kau tak bisa membohongiku? Dan ketika kau mulai menampakkannya, dengan cepat kau menyembunyikannya lagi! Apa ini yang kau inginkan? Huhu, dunia memang permainan. Tapi cinta? Hanya butuh kejujuran!!!

Sesejuk bening matamu…


Dan, biar saja tetap seperti ini, karena rasa rindu yang mendera sekaligus rasa sakit yang kukecap, setidaknya mengabarkanku bahwa hingga saat ini pun kau masih ada. Setidaknya, aku masih bisa membayangkan sejuk bening matamu yang sayu, seperti menatapku meski tak pernah ada bahasa apapun yang diisyaratkan kecuali semuanya seperti biasa saja. Mengalir seperti air, menggelinding seperti bola. Aku tahu ini menyiksa, aku mengerti kau tak bermaksud apa-apa. Tapi sekali lagi kau sama sekali tak berhak menyandra imajiku tentang semua hal yang berkaitan denganmu!. Itu saja…

Rabu, 14 Juli 2010

Pesan dibalik Angka

salah besar,
jika kau pikir Matematika hanya gugusan angka
dan jangan dikira ia berkutat pada teka-teki bilangan saja
dikuadratkan. disederhanakan
difaktorkan. disubstitusikan
salah besar,
jika kau pikr Matematika sebatas konsep dan teori pasti belaka
dan jangan dikira sabdanya berkisar rumus logika saja
ditambah. dikali.
dikurangi. dibagi.

Dua Faktor; Menjadikan Guru Ideal Dan Profesional

Diakui atau tidak, guru merupakan figur sentral dalam dunia pendidikan khususnya saat terjalinnya proses interaksi belajar mengajar. Dalam artian, guru menjadi pemeran utama dalam proses belajar-mengajar yang merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Sehingga, tidak salah kiranya ketika diasumsikan bahwa guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa urgensitas guru _baik dalam kapasitasnya sebagai profesi, tugas kemanusiaan, dan tugas kemasyarakatan_ tidak bisa dielakkan.

Berinvestasi Di Pasar Modal (Upaya Mempercepat Laju Perekonomian)

Investasi secara umum diartikan sebagai penanaman modal (dalam suatu perusahaan) yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Dalam artian bagaimana modal yang dimiliki akan menghasilkan income yang besar terhadap orang yang berinvestasi (investor) atau setidaknya memberikan pemasukan yang stabil. Disinilah sebenarnya tujuan utama dari kegiatan investasi, yaitu dalam rangka "memperjelas garis" perekonomian (baca; keuangan) di masa yang akan datang. Aktifitas investsi ini menjadi penting dikarenakan modal yang ada akan menjadi lebih berdaya guna dan lebih bermanfaat serta untuk menghindari "stagnasi" modal yang nantinya akan berakibat terhadap kerugian yang tidak diinginkan.

Jangan Buang “Habibi-Habibi Kecil” (Lagi) …

Lagi-lagi, bangsa Indonesia harus berterima kasih
terhadap empat putra terbaiknya, Teuku Mahuzh
Aufarkari (SMAN 10 Fajar Harapan, Banda Aceh), Muhamad
Faiz (SMAN 10, Pacitan), William (SMA Sutomo I,
Medan), Vincentius Jeremi Suhardi (SMA St. Louis,
Surabaya) yang baru saja mengharumkan nama bangsa di
pentas internasional karena menjadi pemenang dalam
olimpiade kimia internasional (international Chemistry
Olimpiade) ke-39 yang dilaksanakan di Moskow, Rusia.
Mereka mampu bersaing dengan 280 siswa dari 68 negara
dan berhasil menggondol dua medali perak dan dua
medali perunggu. Itu artinya, prestasi tersebut lebih
baik ketimbang prestasi tahun lalu yang berhasil
membawa pulang empat medali perunggu.

Minggu, 11 Juli 2010

Tapakmu…



Malam ini, kujarah sinar matahari melalui mata hatiku lantaran obor yang kunyalakan tak mampu melukis jejakmu
Hilang kemanakah tapakmu?
Dan jika makin malam, saat tetes-tetes embun mulai menidurkan dedebuan yang melenggak bersama semilir angin, juga tak kutemukan,
Akan kemanakah kucari senyummu?
Tapakmu, ibu
Jejakmu, ibu,
Senyummu, ibu
Hingga lelah menjarah sekucur jiwaku dan peluh mengucur deras menapaki setiap lekuk tubuhku,
Lamat kudengar bisikan merdu;
“merunduklah, dihatimu kau pasti temukan tapak jejak itu…”
Ah, Tuhan itu suara ibuku!
Jakarta, 10 Juli 2010

Tentang Jakarta (1), Prolog



Pertama, ini mungkin cerita tentang ‘keterbelakangan’ orang yang memang terbelakang, mencoba mengisahkan sedikit di antara bejibun misteri kota Jakarta. Tentang ini, bahkan ada teman saya yang bilang, “idih, goblok maksa!” ucapnya dengan tampang sok bohay. Saya tersenyum saja, tersenyum khas dengan interpretasi sedikit witis (istilah orang jawa).
Kedua, cerita ini mungkin semacam “culture shock” (meminjam istilah Din Syamsuddin) yang biasa terjadi ketika ada asimilasi kebudayaan. Antara desa dan kota. Antara Madura dan Jakarta. Antara wong cilik dengan orang gede, dan semacamnya dan semacamnya….
Ketiga, dengan harapan besar bahwa tulisan ini akan menjadi semacam inspirasi, renungan, atau mungkin bahan tertawaan. Yah, setidaknya meski tidak sepopuler tulisan Dahlan Iskan ketika menuliskan detik-detik Operasi Hatinya, tapi inilah tulisan saya, hadir dengan rasa percaya diri yang purna! Semoga…

Hingga Renta Tubuh Ini


Hingga renta tubuh ini,
dan derai-derai gerimis tak jua mampu
merinaikan gelora rindu di ujung piluku
hanya desah yang gundah
hanya gelisah yang pasrah
kau, selalu saja melambungkan anganku
tak puaskah kau jilati tetes-tetes airmataku?
kau, selalu saja maniup-niup ubun kepalaku
mungkinkah jeritku kau kata merdu?
Hingga renta tubuh ini,
sedari dulu, mestinya kutundukkan wajahku
biar tak lagi ada geliat anggunmu
Maafkan aku, sayang… (sekali ini saja)
ini salahku, bukan salahmu
maafkan aku, sayang… (ini yang terakhir)
bukan aku tak mau, kau saja tak suka

surgaku, 2010

Memilih

Dulu, seorang kakek jenius dari Prancis bernama Jean-Paul Sartre yang terkenal dengan eksistensialisme-nya pernah berkata bahwa hidup ini adalah pilihan. Implikasi dari statement-nya itu mungkin hanya sebuah pesan bahwa hidup adalah seni (pembelajaran) dalam mengambil keputusan. Bahkan pada tataran yang lebih ‘ekstrem’, ia berkata dengan kalimatnya yang sangat ‘kreatif’, “aku memilih maka aku ada, aku bebas maka aku ada”. Menurutnya memilih dan bebas adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Karena hakikatnya, tak pernah ada pilihan jika tak ada kebebasan.
Kemudian jika ternyata pilihan kita benar, sudah tentu kita akan merasa bahagia. Tapi jika sebaliknya, pilihan kita ternyata kurang atau bahkan salah total, maka tetaplah yakin bahwa kesalahan adalah kebenaran yang tertunda. Betul? Dus, kurang pas rasanya ketika di kemudian hari ada penyesalan-penyesalan, karena yang semestinya dilakukan adalah menyadari bahwa kita harus bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi logis yang ditimbulkan, apa pun dan bagaimana pun bentuknya.
Di samping itu, bukankah pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup? Ah, ternyata benar, tak ada di dunia ini yang benar-benar sia-sia, termasuk kesalahan sekalipun!.

Sabtu, 10 Juli 2010

Elegi Setengah Pagi

Malam ini, keterasingan ini kembali melemparkanku jauh menuju masa-masa itu. Masa dimana begitu banyak hal yang terjadi tapi sedikit sekali yang benar-benar bisa kunikmati. Masa yang telah banyak menorehkan luka diantara sedikitnya percikan madu yang bisa kucicipi. Semuanya lalu menjadi semacam slide yang bergantian memenuhi isi memoriku; dan itu masih tentang kamu, gadis cantik yang berhasil mengeleparkanku pelan-pelan sekali, tanpa aku sadari…
Cinta dan luka, atau bahkan hidup dan luka, adalah dua entitas yang tak bisa dilepaskan, begitu salah seorang karibku berkata. Keduanya, entah kenapa, seperti memang tercipta bersamaan. Dan tentu ini tidak bisa dimaknai secara general, karena pasti ada yang justru mengalami sebaliknya. Sayangnya, saat ini aku tidak termasuk golongan yang kedua tersebut. Hidup adalah proses, kawan… aka nada banyak hal yang terjadi, aka nada banyak peristiwa yang menimpa, dan aka nada banyak sesuatu yang bisa kita cerna, meski itu tidak harus sepenuhnya kita tahu kenapa bisa terjadi. Aku kembali teringat perkataan temanku; “kadang kta memang tidak perlu mengetahui segala sesuatu, kita hanya perlu percaya!”
Dan masih tentang kamu, masihkah kau mengingatku? Jika heart feeling (kontak batin) itu bisa dipercaya, mestinya kamu juga mengingatku. Kenapa? Yah, karena saat ini aku benar-benar mengingatmu. Tapi, anggap saja, teori itu hanya bualan burung kenari yang mengigau di setengah pagi. Hanya saja, kalau boleh jujur, aku ingin kau juga merindukanku. Ingin sekali, sayang (jangan marah dengan panggilan ini!). ok, aku akan berbicara yang lain saja…

Sesaat Setelah Pagi

Entah kenapa, aku tiba-tiba merindukannya. Rindu yang mungkin tak kan mampu menggetarkan rindu di hatinya. Entahlah, aku juga tak tahu. Tapi, jika dulu getaran itu begitu kuat di antara kita, mungkinkah ia lenyap dalam sekejap mata? Ah, tak mungkin! Sebab jika rindu (lebih-lebih cinta) itu ada, ia tak kan mudah sirna. Ah, aku terlalu berharap rupanya!. Ya, aku memang mengharapkan itu. Lalu kenapa? Semuanya sah-sah saja…
Dan malam ini, anggaplah ini sebuah refleksi atas kegundahan yang tiap saat tak bisa kutepi; tanpa permisi ia selalu menghampiriku dengan wajah sok manisnya. Padahal, aku tahu, sebentar lagi ia akan menyiksaku dengan begitu kejamnya. Sudah beberapa kali aku mengalami seperti ini. Dan dugaanku tak pernah salah, bahkan lebih kejam dari yang kubayangkan. Aku diam saja mengingatmu, sekalian aku ikuti geliat nafsuku. Barangkali dengan ini kau akan puas, hingga ketika aku mati kau tak merasa perlu bertanggung jawab atas lenyapnya desah-desah nafasku. Perlukah aku mengumpatmu? Jika ia; kurang ajar sekali, kau, sayang…
Ah, aku tak kuasa menahan gejolak kerinduan yang menyakitkan ini. Seperti luka kering yang digaruk lagi hingga terkelupas lalu perih lagi, berdarah lagi, begitu seterusnya. Tapi, kenapa aku begitu menikmatinya? Maka, biarkankan saja aku pasrah. Menengadahkan kedua tanganku, memusatkan pikiranku dengan mata terpejam, lalu pelan-pelan tapi pasti akan kualirkan kalimat kepasrahan yang total pada-Mu, ya Allah; “Jadikanlah dirinya wanita, yang Kau kirim untuk menjadi pendamping hidupku kelak…”. Begitu saja…